GilankHB

Hanya untuk kalian aku bernyanyi dan menuliskan kata – kata hati ku

INDIE PEACE POLIBAN BANJARMASIN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CP : 081953788848

Cinta (Agama)

Masihkah kita harus memikirkan perbedaan ? Ingatkah bahwa kita semua terlahir dari nenek moyang yang sama “Nabi Adam dan Hawa” . Pentingkah kita mempermasalahkan perbedaan itu . Kita memang berbeda , memang mempunyai jalan setapak yang berbeda – beda namun satu tujuan “TUHAN” . Saya tidak menganggap diri saya salah bila saya jatuh cinta kepada yang bukan satu keyakinan dengan saya . Yang saya permasalahkan masih ada orang – orang yang meanggap itu salah , saya Muslim dan dia Protestan , namun kami saling menghargai anugerah ini . Bukankah jatuh cinta itu menggambarkan sebuah kebahagiaan ? .

Kalian tidak pernah salah bila kalian mempunyai niat yang bertentangan dengan keyakinan kalian bila itu untuk kebahagiaan kalian .

Aku melihat malaikat surga menatapku melalui matamu

Kesunyian malam melupakan kenyataan
kecuali bisikan pasrahmu yang masih bergetar di teligak
aku berdiri di atas gunung menutup panasnya matahari
kusimpan ngilumu di dalam dada bumi
kubungkus kecantikanmu di dalam jiwa alam
aku akan mencintaimu seperti batu karang di bibir pantai

Kebenaran akan menempatkan takdir kita dalam kedamaian cinta
yang hidup dalam bayangan kehidupan tidak akan menghasilkan kasih
jangan kau pecahkan wajahmu dibalik cermin retak
sebab didalam cawan anggurmu masih tersisa hasrat semalam

Bidadari-ku
aku melihat malaikat di surga menatapku melalui matamu!

 

Puisi ini saya dedikasihkan kepada saudara – saudara ku yang mengalami hal serupa

Tidak!!! Aku diam .

   TRIBUTE FOR KAHLIL GIBRAN
“Hari ini kau mau datang.
dan kamarku sudah bersih…………..”
 
Langit sebentar lagi akan berhias warna kemerah-merahan dari cahaya matahari yang condong ke barat. Sedikit awan putih mungkin akan menambah manis biasnya. Warna langit sore ini sama seperti dua puluh tujuh tahun yang lalu ketika aku masih belajar menggambar pemandangan gunung dengan kelepak burung-burung kecil, sawah-sawah yang terjejer rapi, gubug-gubug yang terlihat damai dan satu jalanan yang bengkok membelah kertas gambar, serta langit yang merah marah.
 
Pernah sesekali ibu bertanya,
“Nak kenapa langitnya berwarna merah bukan jingga?”
“Langitnya sedang marah, bunda!” seruku sambil menatap mata ibu yang teduh.
 
Lalu pasti ibuku akan tersenyum dan memberikanku krayon warna kuning, dan berkata
“Nak, langit itu baik. Dia tidak pernah marah pada kita, karena Dia sangat baik terhadap orang yang baik.”
 
Aku tersenyum dan menuruti kata-kata ibuku, dengan sigap aku tumpuk warna merah yang sudah tergambar dengan warna kuning agar menjadi jingga. Iya! jingga yang utuh, jingga yang murni, jingga setiap siapa saja melewatinya pasti akan menyukainya karena Dia baik memberikan keindahan pada kadang akhirnya.
 
Sekarang, semua itu sudah tidak ada lagi, sudah menjadi ingatan yang bergalayut di langit-langit batok kepala dan tidak mau dipetik. Ibu sudah meninggal, tepat di senja yang merah beberapa bulan lalu setelah luka kecil yang menimbulkan lubang menembus payudara dan paru-parunya. Pada akhirnya ibu menyerah melawan luka dan tidak bisa bernafas lagi. Sedetik setelah ibu menghembuskan nafas terakhirnya, aku tercekat dalam kesedihan pertanyaan, cara terakhir seperti inikah yang Kau berikan pada ibuku. Bukankah beliau adalah manusia yang selalu mengagumi dan memujaMu. Selayaknya pengagum setia, dia pantas mendapatkan akhir yang lebih baik dari ini semua. – Dan aku heran mengapa ibu masih sempat tersenyum dan menyebut-nyebut namaMu sebelum tidur panjangnya?
***
 
Bagiku selalu mengerikan melewati senja yang seperti ini, kemerahan langitnya dengan semilir menelisik perlahan melewati jendela kamar yang sengaja aku biarkan terbuka, sedang jiwaku merasa seperti akan dirampas oleh hembusan angin.
Inikah waktunya Tuhan?
Waktuku.
Sekelebat bayangan berlalu dihadapanku.
***
 
Setelah beberapa waktu aku menjadi terbiasa dengan senja yang seperti ini, terbiasa mengahadapinya dengan tersenyum karena aku tahu bahwa tidak lama lagi Kau juga akan datang untukku. Dalam kamar yang tidak begitu luas ini, hanya tiga kali empat meter saja. Tembok yang berwarna putih pucat disalah satu sisi temboknya tersusun beberapa foto tua milik ibu. Lantai keramik tempat membumikan semangat yang luntur diguyur kerasnya kehidupan,  langit-langit yang cukup tinggi untuk memasang mimpi kalau khayalan kelewat batas, – celaka. Disalah satu sudutnya ada lemari tempat menyimpan kesombongan dan keserakahan, lalu aku hanya akan mengenakan pakaian biasa yang rombeng.  Disampingnya ada meja tulis terdiri disitu, hampir tidak pernah aku gunakan. Satu ranjang tidur yang juga jarang aku tiduri, satu loker berada ditepian penuh dengan buku. Dua pasang jendela kaca yang kalau hujan rintik aku bisa mengintipnya dari situ dan kalau Kau sedang bermurah hati memberikan senja, maka aku bisa menyaksikan senja yang merah murung.
 
Dan kamarku sudah bersih…
Tapi sebenarnya bukan itu semua yang sudah aku persiapkan untukMu saat ini. Setiap langkah dari kehidupan telah aku hitung menurut jangka aturanMu, walau aku tahu apa yang sedang aku cela, aku hujati terhadap takdir-takdir gila yang Kau berikan padaku, pada orang-orang disekitar yang sangat aku sayang adalah semata kekesalanku yang spontan dan masih dalam batas kewajaran tidak menerima keputusanMu. Ketika kembali banyak hal terbuka maka tidak bisa aku tampik bahwa betapa sinergi kekuasaanMu melebih dari apa yang aku pikirkan, lalu aku menyerah dan berbenah seperti sekarang.
 
Sungguh kamar ini hanya media yang coba aku rapikan sebelum Kau benar-benar tahu siapa aku dan mengambilku dari kamar ini setelah ibuku.
 
-mungkin kau akan menilaiku dari apa yang ada disekitarku.
 
Maaf jika aku berburuk sangka padaMu tentang sebuah penilaian, tapi dengan jujur aku mengatakan, aku takut semuanya buruk hanya karena hal sepele duniawi ini. Bukankah aku juga akan menyusul ibuku dengan senyuman? – Begitu banyak cerita tertekan dalam otak dan hati saling ingin menyudahi satu sama lain, Buruk.
 
Aku…
Baik, mari aku beri tahu sedikit tentang hal ikhwal siapa aku sebelum Kau benar-benar datang hari ini, karena siapapun aku pasti Kau akan lebih memahaminya jauh daripada aku sendiri.
 
Aku adalah orang yang banyak merasa dan sedikit mengerti, tersesat dalam labirin-labirin berlendir menjijikan sang waktu. Walau banyak buku aku baca, walau banyak bijak aku tanya lalu aku akan selalu terkapar lemas memandangi langit yang diam terhadap ribuan bahkan jutaan hal yang tidak bisa aku mengerti atau setidaknya diberi pengertian, -perhatian.
 
Aku adalah orang yang tidak mau terdefinisi dan mendifinisi oleh jeratan mata kasat, selagi semuanya menoleh kekanan bisa jadi aku sedang menoleh kekiri. Dan pandanganku yang nanar ketika satu wujud berdiri dihadapanku maka akan selalu terlihat seperti amoeba yang membelah diri jadi dua, empat, delapan dan seterusnya. Ketidak-konsistenan wujud terletak terhubung berbeda pada setiap pemikiran masing-masing dan aku bukan bagian dari yang memutuskan untuk menolak untuk menerima.
 
Aku adalah orang yang berjejal ingin keluar dari sebuah kungkungan ketidakabadian ini. Berlarian melupakan, kalau perlu dengan sorak rendah riuh aku akan menggeser tukar perwujudan ini. Melompati kilang kegelisahan dan tetap melantunkan berbagai bunyi, agar lebih hangat apa yang sudah aku jalani. Bagiku hidup sama artinya menyerahkan kemenangan dan menukarnya dengan kekalahan beruntun sebelum waktu yang Kau tentukan.
 
Aku adalah orang yang meruang dengan segala langkah terbawa sampai ke puncak tinggi dan seloroh ke pantai-pantai, namun akan kembali pada kamar ini dengan membawa segala rindu dan dendam dan berakhir dalam banyak tulisan, mengerikan. Sebuah labuhan yang harus aku kunjungi ketika apa yang menggerogoti bentuk-bentuk mulai mengganas dan tak kenal ampun, walau aku sendiri adalah tuan terhadap apa yang aku pikirkan.
 
“Bakar…bakar” cuma itu bisikan yang terdengar ketika sebentuk naskah selesei tepat sebelum menemui ajalnya – sama seperti aku nanti.
 
Aku adalah orang yang hanya akan ada di titik yang tidak mungkin  disentuh walau sangat dekat, menemani, berkawan dengan kepedihan dan luka-luka. Sedang sebab kenapa aku harus hidup ternyata kadang pikiranku memang seperti itu. Aku menjemput takdirku sendiri, menginginkan awan gemawang runtuh jadi hujan dan disitulah berbeda antara aku dan hujan.
 
Aku adalah orang yang sangat pekat, berjarak ribuan kilo dari pemikiran manusia pada umumnya, sesekali aku menolak, sesekali aku bermuara pada kebingungan pementasan hidup, Ahh…sungguh culasnya aku. Tapi bisakah Kau rasakan energi yang meledak dari bentuk-bentuk ketidak patuhanku ini? – mata adalah jala yang menjaring makna dan segala yang terdetik dalam pikiran dan hati hanyalah tipuan.
 
-Tiada reinkarnasi.
 
Cukup
Ahhh! tapi sungguh Kau pasti mengenaliku lebih dari aku sendiri, sungguh benar hidup cuma seperti permainan yang berputar bekutat membalik pada titik azimtut, tua, lemah dan siap untuk tidak di ingat.
 
Dan aku mulai berbaring memejamkan mata, sambil mengatur ritme nafas, tersenyum seindah mungkin. Ibu, senyuman ibuku yang kudus seakan mensucikan kegundahan ini.
 
Ayo! Silahkan sesiap apapun akan ada ragu, tapi biarlah aku sisakan sedikit keraguan sepantasnya manusia yang tetap masih manusia.
 
Jika kamu jadi datang hari ini aku sudah bersiap,
dan kamar sudah bersih.
 
*Langit sedang cerah dan layar-layar siap dikembangkan.
 
Bawalah aku, kemanapun Kau berkehendak.
pun aku tidak percaya reinkarnasi dan kehidupan sesudah mati, tapi biarkan aku setidaknya bisa tersenyum.
Cerpen ini menceritakan sedikit kisah hidup Kahlil Gibran

Deary untuk sahabat kecilku

Sahabat !
Apa kabarmu hari ini?
Lama kita tak jumpa
Ku rindu canda tawa kita
Ku rindu tutur katamu yang lembut nan bersahaja

Sahabat !
Sekarang kamu ada dimana?
Disini aku menunggumu
Di tempat biasa kita bermain
Aku melihat jejak telapak kita dulu
Masih nampak jelas, tidak pernah hilang

Sahabat !
Kini kita sudah menginjak usia dewasa
Aku dan kau sudah memiliki masa depan
Semua cerita tentang masa kecil kita
Telah ku rekam indah di memory otakku

Sahabat !
Dulu kita pernah menunjuk sebauh pelangi
Pelangi itu yang menggambarkan warni-warni
Cerita persahabatan kita
Cerita masa kecil yang paling indah
Dan tak mungkin kita dapatkan lagi
Di masa sekarang

Sahabat !
Puisi ini ku persembahkan untukmu
Untuk sahabat kecilku
Sahabat, sampai jumpa di masa tua
Aku akan selalu merindumu selamanya

Puisi ini untuk saudara – saudaraku yang mempunyai kisah sama seperti puisi ini

Mimpi yang terabaikan

Tak pernah terfikirkan dalam benakku
Semua terasa seperti mimpi
Mereka semua merasa lebih beruntung
Dan merasa lebih diatas
Padahal aku dan mereka itu sama hanya saja berasal dari gen yang berbeda

Pernahkah terfikirkan olehmu
Bagaimana rasanya berada dan menjadi aku
Tak ada satupun yang mungkin pernah berfikir seperti itu
Mereka mana akan peduli dengan azzam orang lain
Yang dipenuhi dengan tetesan keringat dan airmata
untuk berjuang agar dapat menjadi seperti mereka

Sungguh miris rasanya hidup seperti itu
tak pernah ada yang peduli dengan asa yang seperti itu
akankah ada yang akan ingin dan mau mengerti
mau membantu mereka

Semua waktu Yang akan menjawab
karena hidup adalah pilihan yang harus dipilih oleh yang terpilih
untukmu yang berkecil hati
jangan merasa sendiri
ada aku disini yang akan selalu ada untukmu

Puisi ini aku dedikasihkan kepada saudara – saudaraku yang terinfeksi virus HIV/AIDS

A A (Akankah aku) “Suci”

AKANKAH AKU

 

 

Seputih batin nya mencerinkan farasnya yang sangat indah .

Sesuci hatinya seperti nama nya .

Seperti sifatnya melihat semua dengan hati .

Semua yang aku inginkan ada padanya .

Akankah aku menjadi dia inginkan .

Akankah aku yang menjadi ayah dari anak – anak nya.

Akankah aku seperti pelangi yang menunggu hujan reda disetiap bulan desember .

Aku selalu optimis bahwa dialah jodohku dengan usaha penuh serta ke ikhlasan ku .

 

 

Aku masih ingin melihat senja, bersamamu!

Sinar matahari kembali menyapaku pagi ini, seperti pagi yang sudah-sudah. Menyapa pori demi pori kulit yang menyambutnya dengan sapaan hangat, sehangat kerinduan yang menetas pada tiap tetes air mata manusia. Serupa air mataku.

 

Beberapa pasang mata mengintip melalui jendela. Mata yang tiada berhenti menggumamkan cerita. Menyumbangkan tawa luka. Memahat rasa sakit. Sedikit demi sedikit. Belum lama kutahu, mereka adalah mata kenangan yang dikirim pikiranku sendiri, yang masih ingin memadu rasa cinta kepada pagi, siang dan semua waktu yang tak tersebutkan. 

 

Kembali aku menulikan hati kepada waktu. Menengadahkan rasa lupa dari luka. Mengintimidasi hening yang terbiasa melukai malam. Membutakan segala rasa yang tertuju pada hatiku yang dijauhi hatimu. Ini seperti sebuah kebenaran yang tiada mengenal kalimat adil.

 

Sejauh yang kuingat, aku telah mengakrabkan namamu pada harapan. Itu bukan perkara mudah, apalagi sepertinya mereka berjodoh. Setelah kamu memutuskan pergi, aku mungkin bukan lagi aku. Mungkin juga kamu bukan lagi kamu, di waktu aku memikirkanmu. Sejujurnya, sampai detik bait-bait ini terangkai.
“aku mencintaimu, tetapi aku lebih mencintai diriku,” begitu katamu saat mengakhirinya. Tak

lama setelah itu air mataku berkata “karenaku, kau tahu mencintai itu adalah pekerjaan berat kan?!’’ 

 

 

Ya, memang berat. Berat memang. Ini bukan tentang perpisahan yang membuatku bersedih, ini tentang aku yang mengenal kamu jauh sebelum aku mengenal rasa cintaku kepadamu.

 

Tapi aku juga ingat betapa cinta itu baik. Ia yang membuat pagiku segar tiap kali mengingatmu, membuat senjaku tersenyum saat merindukanmu dan membuat malamku menenangkan saat kita selalu bisa saling menemukan, nyata maupun maya. 

 

Saat menulis ini, aku sedang tersenyum dan bercanda dengan kenangan, melalui angan. Ya, angan adalah ruangan gratis tempatku bisa menyetubuhi perasaanmu, juga perasaanku. Sembari berdoa suatu hari nanti aku bisa menjadi dua, supaya bisa memelukmu di sana sambil merindukanmu di sini.

 

Baik-baik ya di sana. Mulai saat ini aku tak akan mengatakan “Mimpi indah ya!” lagi, tapi “hati-hati ya tidurnya!.”  Tahu kenapa? Hati-hati karena aku akan selalu memaksa untuk memasuki mimpimu dan menjadi aktor utama di setiap episodenya.

 

 

 

Satu lagi, aku masih ingin melihat senja, bersamamu!

 

By : Anji @anjiii_  http://www.erdianaji.com/index.php

Tak Berjudul Hatiku

Nama itu
selalu buatku merindu
nama itu pemiik wajah sendu
dimanakah kamu?

Aku menangis sendiri dikamar ini
Bagaikan lagi memiliki Hati
Terbawa pergi,
Bersama kenangan-Kenangan Manis

Sungguh,Ku harus menemukannya Lagi
Agar kembali bisa mencintai
Daripada hidup tanpa hati
Lebih baik aku mati

ku ingin lupakan mu
namun hati ini
selalu teringat akan dirimu
merasuki selalu pikiranku

Dengan apa harus kulalui hidupku
Aku hanyalah menunggu dan selalu menunggu
Sampai kapankah hidup mempermainkan takdirku
Dan tak berani mendekatiku

dulu kau mencintaiku…
dulu kau menyayangiku..
sama seperti rasa sayang ku pada mu.

Dulu kita saling mengerti
Dulu kita saling memberi
Seiring waktu kita jalani
Ada perbedaan yang tak kita sadari
Trimakasih kau telah mengisi hari-hariku
Trimakasih kau mau singgah dihatiku
Bukan maksudku lukai hatimu
Bukan inginku menyakitimu
Biarkanlah semua menjadi kenangan yang indah dalam hidupku

Puisi ini saya menceritakan tentang kisah cinta sahabat saya

Jawaban dari senyumanku

Kenpa aku sendiri ?

Mengapa aku tidak berusaha untuk menjadikan dia masa depan ku ?

Haruskah selalu terperuk dengan kesepian ?

Tiga pertanyaan diatas adalah pertanyaan – pertanyaan orang – orang terdekat aku .

“Aku sendiri bukan berarti aku mati dalam keterpurukan kesendirianku , karena aku tahu seiring berjalannya kehidupan semakin banyak peluang untuk melihat masa depan. Kenapa aku sendiri ? terlalu panjang untuk menjawab pertanyaan dari 3 kata itu , hanya dengan senyuman aku menjawab pertanyaan yang teramat sulit ini . Hanya lewat sinilah aku bisa menjawab pertanyaan ini. Takdirkah – Kebetulankah yang kalian bisa percaya ? Jelas aku lebih percaya dengan takdir , dari takdirlah kita bertemu dan dari takdirlah kita dipertemukan .”

“Banyak teman dekat wanita maka banyak juga peluang kita untuk tidak sendiri , tapi semua itu tidak berlaku terhadap ku , kenapa ? setiap kali aku mengenal lawan jenis ku sering dia melihat masa lalu ku , siapa aku ?, apa latar belakang keluarga ku ? dan siapa yang pernah menjadi kekasihku ?  . Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelebihanku  . Aku terlahir dari keluarga broken home .Siapapun yang pernah menjadi kekasihku meraka adalah jodoh yang tertunda bagiku. Saya benci dengan wanita yang bertanya dengan perntanyaan ‘siapa yang pernah menjadi kekasihku ? Aku tidak hidup dimasa lalu aku hidup di tahun sekarang , bulan sekarang , hari sekarang , jam sekarang , menit sekarang , dan detik sekarang. Kenapa aku tidak berusaha untuk meyakinkan dia atas masa lalu ku? jodoh atau cinta sejati tidak pernah melihat masa lalu ku .”

“Dengan bertemankan kesepian aku punya waktu banyak untuk melakukan hal apa yang aku inginkan , dengan memanfaatkan kesepian dengan baik aku bisa menemukan sesuatu hal yang baru , dikesepian ku tanpa sepasang kekasih aku mempunyai waktu yang banyak bersama family dan sahabat – sahabatku .”

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.